fbpx

Mendirikan startup teknologi ala Silicon Valley: Sebuah Review buku StartuPedia

Ekosistem startup teknologi di Indonesia meningkat dengan (sangat) pesat. Bisa dibilang hampir setiap bulan ada startup lokal yang mendapat pendanaan, terakhir startup penjualan kopi, Kopi Kenangan. Bagaimanapun, di saat bersamaan, banyak juga startup yang gagal di tengah perjalanan mereka, karena beberapa alasan seperti tidak memiliki tim yang kuat dan berbakat, tidak mempunyai model bisnis yang jelas, tidak memahami pengguna mereka, dan alasan lainnya.

Selain berbagai alasan tersebut, pengetahuan dan pengalaman sang Founder juga menjadi salah satu faktor penting yang bisa mempengaruhi sukses atau gagalnya sebuah startup. Sebuah buku berjudul StartupPedia: Panduan Membangun Startup Ala Silicon Valley karangan Anis Uzzaman berikut mungkin bisa menambah pengetahuan Anda sebelum memutuskan untuk mendirikan startup teknologi.

Anis Uzzaman 2 700x400

Anis Uzzaman

Anis merupakan CEO dan General Partner dari Fenox Venture Capital1 yang telah berinvestasi di lebih dari 50 startup di seluruh dunia. Ia telah memiliki pengalaman bertahun-tahun di bidang investasi dan membangun perusahaan di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Dalam buku ini, Anis berbagi ilmu dan pengalaman yang ia alami selama menjadi Venture Capitalist (VC) yang tidak hanya memberi bantuan dana kepada startup, tapi juga memandu startup tersebut dalam perjalanan karir mereka menuju exit. Buku setebal 228 halaman ini terdiri dari enam elemen penting yang akan membahas bagaimana mendirikan startup dari awal hingga exit.

Melalui artikel ini, saya tidak akan membahas elemen yang mungkin sudah banyak Anda dapatkan di buku-buku lain, melainkan akan membahas poin-poin penting yang sering tidak saya temui dari sebuah startup baru.

Mendirikan startup untuk memecahkan masalah yang sebenarnya

Pada elemen pertama buku ini, Anis menjelaskan bahwa hal dasar yang perlu dimiliki sebuah startup adalah tim yang solid dan berkualitas. Karena tim merupakan inti utama yang dimiliki startup baru, dan sangat menentukan apakah startup tersebut bisa sukses atau tidak.

Kemudian langkah berikutnya adalah membuat produk yang benar-benar memecahkan masalah dan membuat pengguna menyukai produk yang Anda buat. Anis merekomendasikan metode “The Lean Startup” dari Eric Ries yang sudah teruji dan banyak digunakan dalam pengembangan produk secara bertahap.

Paten itu penting

Seperti apa yang dijelaskan Anis dalam bukunya, sebagian besar startup di Asia Tenggara belum mematenkan dan memanfaatkan paten produk mereka. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ekosistem startup teknologi di Silicon Valley yang banyak memanfaatkan paten untuk bisa bersaing dan mencapai tujuan exit mereka melalui M&A.

Fungsi paten tidak hanya untuk melindungi hak kekayaan intelektual dari produk Anda. Dengan adanya paten, Anda bisa mencegah kompetitor untuk meniru produk Anda. Selain itu, paten juga merupakan senjata utama untuk melebarkan sayap secara global. Dalam buku ini, Anis memaparkan secara jelas apa saja fungsi dari paten dan bagaimana paten dapat mempengaruhi sebuah startup.

Menurut Anis, minimnya startup Asia Tenggara yang menghasilkan paten dipengaruhi oleh regulasi pemerintah yang menyulitkan startup. Regulasi yang rumit dan memakan waktu lama menjadi penghambat bagi startup untuk mematenkan produk mereka.

Melakukan pemasaran perlu strategi yang tepat

Salah satu cara agar produk startup Anda digunakan banyak orang dan mendapat penghasilan adalah melalui pemasaran. Akan tetapi ada beragam tipe pengguna yang harus Anda pahami terlebih dahulu agar produk yang Anda jelaskan tepat sasaran.

Buku ini menjelaskan berbagai tahapan pemasaran yang perlu dilalui sebuah startup dan media apa saja yang bisa digunakan oleh startup untuk memasarkan produk mereka. Anis juga memberikan beberapa contoh strategi pemasaran yang biasa digunakan perusahaan dalam mengakuisisi pengguna mereka dan bagaimana mempresentasikan produk Anda kepada calon konsumen.

Menggalang pendanaan dan mempersiapkan exit

Pendanaan atau funding merupakan salah satu hal yang berkaitan erat dengan startup teknologi. Akan tetapi mencari pendanaan bukanlah perkara mudah. Bahkan mengelola kucuran dana yang telah diperoleh pun memerlukan strategi khusus, agar startup tidak kehabisan uang sebelum produk mereka sampai ke tangan konsumen.

Mengingat Anis merupakan seorang VC, ia menjelaskan banyak hal tentang pendanaan dalam buku ini; mulai dari tujuan menggalang pendanaan, berapa banyak uang yang perlu digalang, hingga cara mengelola pendanaan. Anis juga menambahkan beberapa pilihan pendanaan yang biasanya ditawarkan investor kepada startup seperti saham, convertible note, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan dari penawaran tersebut.

Selain untuk mengembangkan produk dan melakukan ekspansi, pendanaan juga diperlukan untuk mencapai tujuan akhir sebuah startup yaitu penawaran saham ke publik atau Initial Public Offering (IPO) atau melalui Merger and Acquisition (M&A) dengan perusahaan lain.

Kedua pilihan exit tersebut merupakan tahap yang paling penting dari siklus sebuah startup yang dijelaskan pada elemen terakhir dalam buku ini. Anis menjelaskan bahwa kebanyakan startup di Silicon Valley telah mendesain strategi exit mereka dari awal dan hal ini jarang ditemui pada startup di Asia Tenggara. Dalam elemen terakhir ini, Anis menguraikan proses dan strategi dari masing-masing pilihan exit tersebut.

Kesimpulan

Setelah membaca buku ini, saya mendapat banyak pengetahuan tentang startup. Khususnya bagaimana startup di Silicon Valley mendesain perusahaan mereka dari awal mengumpulkan tim, membuat produk, melakukan pemasaran, pendanaan, hingga exit. Dan itu semua perlu Anda ketahui sebelum memutuskan untuk mendirikan startup. Menurut saya pribadi, buku ini bagaikan “tambalan” dari kekosongan yang dimiliki banyak startup tahap awal yang saya temui.

Walau sudah ada startup lokal yang mendapat pendanaan hingga angka triliun Rupiah, ekosistem startup di Indonesia bisa dibilang masih dalam tahap awal. Masih ada banyak masalah yang perlu dipecahkan dan inilah kesempatan bagi generasi muda untuk bangkit menciptakan inovasi teknologi untuk memecahkan hal tersebut. Dan saya yakin dalam beberapa tahun ke depan akan muncul banyak unicorn baru di Indonesia.

Anis pertama kali menerbitkan buku ini di Jepang pada tahun 2013 dengan judul Startup Bible – Silicon Valley Way of Developing Success dan sempat menjadi buku best seller di negeri matahari terbit tersebut. Tahun berikutnya, buku ini dirilis di Korea Selatan, yang ditulis bersama Sean Ryu, Venture Partner and CEO Fenox Korea. Hingga akhirnya pada awal bulan Mei lalu, Anis secara resmi meluncurkan buku ini dalam Bahasa Indonesia dengan harapan banyak startup lokal yang bisa sukses mendunia.

Leave a comment

id_IDID

Kami senang berdiskusi dengan anda!

Dapat konsultasi gratis dengan menghubungi kami via whatsapp atau telpon. Hubungi kami untuk mendapatkan proposal jika project brief (dokumen proyek) sudah ada dan lengkap.
Chat sekarang!
Butuh Bantuan?
Hai, saya ingin meminta penjelasan selanjutnya