fbpx
Rudolf Flesch

Flesch Readability Formula, Cara Populer Mengukur Readability Tulisan

Halo, Alan Lovers! Kalian pernah nggak penasaran seberapa mudah atau sulit tulisan kalian dipahami sama pembaca? Atau mungkin kalian ingin memastikan bahwa tulisan yang kalian hasilkan bisa dimengerti oleh banyak orang? Nah, ada satu cara yang populer banget buat mengukur keterbacaan tulisan, yaitu dengan menggunakan Flesch Readability Formula.

Dalam artikel ini, kita bakal eksplor lebih dalam tentang konsep dan cara penggunaan Flesch Readability Formula untuk mengukur keterbacaan tulisan kalian. Jadi, daripada bingung sendiri, yuk kita cari tahu gimana caranya supaya tulisan kalian bisa lebih mudah dicerna oleh pembaca!

Mengenal Rudolf Flesch, Pengembang Flesch Readability Formula

Rudolf Flesch (1911-1986) adalah seorang penulis, ahli bahasa, dan konsultan bidang keterbacaan. Ia dikenal terutama karena karyanya dalam mengembangkan dan mempopulerkan Flesch Readability Formula, yang merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan suatu teks.

Flesch lahir di Austria dan mendapatkan gelar doktor di bidang hukum dari Universitas Wina. Namun, minatnya yang besar terhadap bahasa dan komunikasi membawanya ke Amerika Serikat pada tahun 1938. Di sana, ia menggeluti bidang keterbacaan dan menjadi seorang konsultan yang berpengaruh dalam mengevaluasi dan meningkatkan keterbacaan teks-teks seperti buku, artikel, dan dokumen bisnis.

Flesch memperkenalkan Flesch Readability Formula pada tahun 1948 melalui bukunya yang terkenal berjudul “The Art of Readable Writing”. Formula ini menggunakan panjang kata dan panjang kalimat dalam teks untuk menghasilkan skor yang mencerminkan tingkat keterbacaan. Skor tersebut kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki kejelasan dan keterbacaan teks.

Karya Flesch dalam bidang keterbacaan menjadi terkenal dan banyak diakui dalam dunia penulisan. Ia juga berkontribusi pada pemahaman tentang keefektifan komunikasi tertulis dan pentingnya penulisan yang mudah dipahami oleh pembaca. Karya dan warisannya dalam bidang keterbacaan terus memengaruhi penulis dan editor hingga saat ini.

Apa Itu Flesch Readability Formula

Formula Keterbacaan Flesch adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan suatu teks dalam bahasa Inggris. Metode ini dikembangkan oleh Rudolf Flesch, seorang ahli bahasa dan penulis, pada tahun 1948.

Flesch Readability Formula menggunakan dua faktor utama dalam menghitung tingkat keterbacaan: panjang kata dan panjang kalimat. Formula ini menghasilkan dua jenis skor yang umum digunakan:

1. Flesch Reading Ease Score

Skor ini mengindikasikan seberapa mudah atau sulit sebuah teks dipahami oleh pembaca. Hasil ini berkisar antara 0 hingga 100, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan tingkat keterbacaan yang lebih baik. Skor di atas 60-70 dianggap mudah dipahami oleh pembaca umum, sedangkan skor di bawah 30-40 menunjukkan teks yang lebih kompleks dan sulit dipahami.

2. Flesch-Kincaid Grade Level

Skor ini menunjukkan tingkat kesulitan suatu teks berdasarkan tingkat pendidikan Amerika Serikat yang diperlukan untuk memahaminya. Misalnya, jika teks memiliki skor Flesch-Kincaid Grade Level 8, berarti teks tersebut dapat dipahami oleh siswa kelas delapan.

Formula ini menggunakan rumus matematika yang mempertimbangkan jumlah suku kata per kalimat dan jumlah kata per suku kata untuk menghasilkan skor keterbacaan. Semakin pendek panjang kalimat dan panjang kata dalam teks, semakin tinggi skornya dan semakin mudah teks tersebut dipahami.

Flesch Readability Formula telah menjadi alat penting dalam mengevaluasi dan meningkatkan keterbacaan tulisan, baik dalam konteks penerbitan, penulisan bisnis, maupun penulisan akademik. Dengan menggunakan formula ini, penulis dan editor dapat memahami seberapa mudah pembaca dapat memahami teks mereka dan membuat penyesuaian yang diperlukan untuk meningkatkan keterbacaan.

Bagaimana Cara Mengukurnya?

Untuk mengukur tingkat keterbacaan menggunakan Flesch Readability Formula, kalian perlu menghitung dua faktor utama: panjang kalimat dan panjang kata. Berikut adalah langkah-langkah umum untuk mengukur dan menghitung skor keterbacaan menggunakan Flesch Readability Formula:

1. Hitung Jumlah Kata Dalam Teks

Mulailah dengan menghitung total jumlah kata dalam teks yang ingin kalian evaluasi. Kalian dapat menggunakan alat penghitung kata online atau menghitungnya secara manual.

2. Hitung Jumlah Kalimat Dalam Teks

Hitunglah jumlah kalimat dalam teks. Perhatikan bahwa kalimat yang terdiri dari klausa terpisah dianggap sebagai kalimat terpisah dalam perhitungan ini.

3. Hitung Jumlah Suku Kata

Hitunglah jumlah suku kata dalam teks. Suku kata adalah unit bunyi yang terpisah oleh spasi atau tanda baca. Misalnya, kata “membaca” memiliki tiga suku kata (“mem-ba-ca”).

4. Hitung Rata-rata Suku Kata per-Kata

Bagi jumlah suku kata dengan jumlah kata dalam teks untuk mendapatkan rata-rata suku kata per kata.

5. Hitung Rata-rata Kata per-Kalimat

Bagi jumlah kata dengan jumlah kalimat dalam teks untuk mendapatkan rata-rata kata per kalimat.

6. Gunakan rumus Flesch Readability Formula

Berikut adalah rumus yang digunakan untuk menghitung skor keterbacaan dengan Flesch Readability Formula:

Flesch Reading Ease Score

Flesch-Kincaid Grade Level

Contoh Penggunaan

Misalnya, kita akan mengukur keterbacaan teks berikut:

“Tulisan ini memiliki 100 kata dan terdiri dari 5 kalimat. Total suku kata dalam teks adalah 150. Mari kita hitung skor keterbacaannya.”

  1. Jumlah kata: 100
  2. Jumlah kalimat: 5
  3. Jumlah suku kata: 150
  4. Rata-rata suku kata per kata: 150 / 100 = 1.5
  5. Rata-rata kata per kalimat: 100 / 5 = 20
  6. Menggunakan rumus Flesch Readability Formula:Flesch Reading Ease Score = 206.835 – (1.015 x 20) – (84.6 x 1.5) = 89.27 Flesch-Kincaid Grade Level = (0.39 x 20) + (11.8 x 1.5) – 15.59 = 3.62

Hasilnya, teks tersebut memiliki skor Flesch Reading Ease sebesar 89.27, yang menunjukkan tingkat keterbacaan yang sangat baik. Juga, skor Flesch-Kincaid Grade Level sebesar 3.62 menunjukkan bahwa teks tersebut bisa dipahami oleh pembaca dengan tingkat pendidikan kelas tiga.

Tertarik untuk mendapatkan artikel unik lainnya? Ikuti terus Alan Creative. Bukan hanya artikel unik, tetapi kalian juga bisa mendapatkan artikel informatif seputar teknologi hingga digital marketing.

Cari semua kebutuhan konten digital hingga teknologi untuk bisnis dan pemerintah hanya di Alan Creative! Termasuk pembuatan website profesional dengan harga terjangkau!

Sebarkan konten ini jika bermanfaat:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

PORTOFOLIO KAMI:

PRODUK ALAN:

Media Sosial kami:

ARTIKEL POPULER!

Dapatkan info terbaru!

Dapatkan artikel & info terbaru!

Tidak ada spam, hanya artikel dan info terbaru!

KATEGORI ARTIKEL

Banyak artikel lain disini!

Baca artikel lainnya...

Apa Itu Waterfall Methodology?

Halo, Alan Lovers! Kalian tau kan kalau software development methodology itu memiliki banyak macamnya? Dalam artikel ini, kita akan membahas salah satunya, yaitu waterfall methodology.

id_IDID

Konsultasi aja dulu. Gratis!

Hubungi kami untuk mendapatkan proposal penawaran jika project brief/requirement (dokumen proyek) sudah ada dan lengkap.
Konsultasi yuk ->
Butuh konsultasi?
Hai,

Alan Creative disini, kami berharap anda tersenyum dan bahagia hari ini. Ada yang dapat kami bantu? Jika iya, jangan sungkan menghubungi kami.

Salam hangat,
Alan Creative